aktris, dalang, pemusik, (sempat jadi) pelukis, penyair, koreografer
Sosok budayawan seperti Sujiwo Tejo agaknya dapat membuat orang yang sedang menyaksikan segala tindakan yang dilakukannya tampak aneh, unik, dan seolah-olah datang dari ruang lain. Sujiwo Tejo yang sejak kecil mencintai dunia seni (terutama kreatif dalam menciptakan tokoh-tokoh wayang) telah mampu mengejutkan pecinta musik(awam) di Indonesia. Hal ini diawali dengan munculnya musik buatannya "Titi Kala Mangsa" pada tahun 1999. Dan pada tahun itulah nama Sujiwo Tejo dan debut awalnya menyentuh dunia kesenian dikenal secara nasional.
Dalam karyanya yang berjudul "Titi Kala Mangsa"(pada suatu ketika) tersebut, tampak adanya gejolak emosi sebuah pemberontakan atau ketidak terimaan atas yang tengah terjadi. Berbagai dinamika, hentakan, dan artikulasi menghias musik ini. Selain logat dan bahasa jawa, teknik dan penambahan instrumen, termasuk vokal(saat koor) juga mengadaptasi dari musik modern.
Tidak hanya "Titi Kala Mangsa" yang terdengar eksentrik. Karya lainnya seperti "Anyam-anyaman Nyaman" cukup nyaman, membumi, dan terdengar enerjik.
Tidak hanya "Titi Kala Mangsa" yang terdengar eksentrik. Karya lainnya seperti "Anyam-anyaman Nyaman" cukup nyaman, membumi, dan terdengar enerjik.
Anyam Anyaman Nyaman
anut runtut tansah reruntungan
munggah mudhun gunung anjok samudero
gandeng rendeng anjejereng rendeng
reroncening kembang… kembang temanten
mantene wus dandan dadi dewo dewi
dewaning asmoro gyo mudhun bumii
e la mendhung… bubar mawur
mlipir mlipir… gyo sumingkir
mahargyo dalan temanten… dalane dewo dewi
sworo trompet… teng celeret
arak arak sigo sigrak
datan kendhat… anut runtut
gyo mudhun bumi